Tuesday, August 5, 2008

Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir

POLITIK INTERNASIONAL PERSPEKTIF HIZBUT TAHRIR

Pengantar

Telaah kali ini akan mengulas kitab Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir yang menerangkan politik internasional dalam pandangan Hizbut Tahrir (HT).

Kitab yang terbit tahun 2005 itu merupakan edisi revisi kitab Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir yang terbit tahun 1969. Walaupun secara umum isinya sama, edisi 1969 tentu tidak mengkover perkembangan-perkembangan mutakhir, semisal konstelasi politik internasional pasca Uni Soviet.

Kitab tersebut bersama kitab Nazharat Siyasiyah li Hizbit Tahrir (1973), merupakan pemikiran politik HT dalam pembahasan politik internasional. Jika kitab Mafahim Siyasiyah mendekati persoalan dari segi konstelasi politik internasional, kitab Nazharat Siyasiyah mendekatinya dari segi perilaku politik tiap-tiap negara adidaya.

Namun keduanya bukan an sich membahas realitas dan analisis politik internasional secara empiris, melainkan juga menyikapinya secara normatif dengan cara pandang Islami yang diadopsi HT. Karenanya, judul kedua kitab itu memuat kalimat "li Hizbit Tahrir" yang berarti, menurut perspektif HT.

Latar Belakang

Tujuan kitab Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir (2005) adalah agar pembacanya mempunyai pemahaman yang baik mengenai politik internasional (hal. 5). Mengapa? Ada 3 (tiga) alasan yang melatarbelakanginya :

Pertama, agar umat Islam dapat menjaga eksistensi negara Khilafah dan umat Islam dari segala macam ancaman luar negeri.

Kedua, karena umat Islam wajib melaksanakan tugas pokoknya untuk mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.

Ketiga, karena umat Islam harus mengatur secara benar hubungan internasionalnya dengan berbagai umat dan bangsa (h. 5).

Tiga motif tersebut asumsinya adalah jika Khilafah sudah eksis kembali. Bagaimana dengan kondisi sekarang ketika Khilafah belum ada? Kitab tersebut tak ketinggalan menerangkan, bahwa memahami politik internasional pun sangat penting bagi para pengemban dakwah, agar mereka dapat merumuskan strategi yang tepat untuk menegakkan Khilafah dan mendakwahkan Islam ke seluruh dunia (h. 5).

Pokok-Pokok Pemikiran

Kitab Mafahim Siyasiyah itu secara garis besar menyajikan 6 (enam) pokok pemikiran sebagai berikut.

1. Politik sebagai Konsep dan Metode

HT menawarkan sebuah kerangka teoretik (theoretical framework) untuk memahami perilaku politik setiap negara dalam politik internasional, khususnya negara ideologis (penganut ideologi tertentu).

Kerangka teoretik itu menyatakan, sebuah negara ideologis akan selalu mempunyai konsep (fikrah) dan metode (thariqah) dalam politik internasionalnya. Konsep di sini maksudnya asas yang digunakan untuk membangun hubungan internasional dengan berbagai negara lain. Sedangkan metode, adalah cara yang digunakan untuk menerapkan konsep tersebut (h. 7).

Konsep dan metode politik itu bagi sebuah negara ideologis bersifat tetap, tidak berubah-ubah. Bagi negara non-ideologis, konsep dan metodenya dapat berubah-ubah.

Negara berideologi kapitalis, misalnya AS, konsepnya adalah menyebarkan sekularisme. Sedangkan metodenya, adalah melakukan penjajahan (imperialisme), yaitu pemaksaan dominasi politik, militer, budaya, dan ekonomi kepada bangsa-bangsa yang dikuasai untuk diekspolitasi (h. 9). Sedang negara berideologi Islam (Khilafah), konsepnya adalah menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Sedangkan metodenya adalah jihad fi sabilillah (Afkar Siyasiyah, hal. 19).

Dalam praktiknya, konsep dan metode politik tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk garis politik (khiththah siyasiyah) dan strategi politik (uslub siyasi). Garis politik adalah politik umum yang dirancang guna mewujudkan salah satu tujuan yang dituntut oleh penyebaran ideologi atau oleh metode penyebaran ideologi. Sedang strategi politik adalah politik khusus mengenai salah satu bagian langkah yang mendukung perwujudan atau pengokohan garis politik (h. 12).

Contohnya, garis politik AS di Irak (2003) adalah menduduki Irak dengan atau tanpa legitimasi internasional, lalu mendirikan sebuah pemerintahan Irak yang akan mendapat legitimasi internasional (dengan resolusi PBB) dan legitimasi lokal (dari penduduk Irak). Strategi politik untuk mewujudkan legitimasi lokal itu, adalah melaksanakan pemilu Irak. Kemudian pemerintahan hasil pemilu ini akan diarahkan untuk memberikan persetujuannya terhadap pendudukan AS (h. 12).

Berbeda dengan konsep dan metode politik, garis dan strategi politik ini tidaklah tetap tetapi dapat berubah-ubah. Contoh perubahan strategi politik, adalah strategi AS di Dunia Islam. Pada tahun 50-an dan 60-an AS bertumpu pada revolusi-revolusi militer untuk menempatkan agen-agennya ke kursi kekuasaan. AS juga menggunakan bantuan-bantuan ekonomi seperti utang luar negeri serta apa yang dinamakan "pembangunan". Sekarang strategi AS bersandar pada solusi-solusi militer dan intimidasi dan kembali bersandar pada berbagai pakta dan pangkalan militer setelah sebelumnya tidak menggunakan cara-cara tersebut (h. 18).

Umat Islam, tentu harus tahu cara untuk melawan konsep dan metode politik negara-negara Barat, termasuk segala garis dan strategi politiknya. HT pun menjelaskan kiatnya. Untuk menghancurkan garis dan strategi politik Barat yang jahat, umat harus melakukan al-kifah as-siyasi (perjuangan politik) dengan jalan membongkar dan melawan berbagai garis dan strategi politik jahat itu. Sedang untuk menghancurkan konsep dan metode politik Barat, umat harus melakukan ash-shira’ al-fikri (perang pemikiran) dengan jalan memerangi dan mengecam sekularisme (konsep dasarnya) dan imperialisme (metodenya) (h. 18).

2. Posisi Internasional

Memahami posisi internasional (al-mauqif al-duali) berbeda dengan memahami perilaku politik tiap negara. Untuk memahami perilaku politik tiap negara, kita harus memahami konsep (fikrah) dan metode (thariqah) politiknya seperti telah dijelaskan. Sedang untuk memahami posisi internasional, kita harus memahami hubungan internasional yang ada (h. 19).

Posisi internasional adalah struktur hubungan-hubungan internasional yang berpengaruh, atau keadaan yang melingkupi negara pertama dan negara-negara yang bersaing dengannya (h. 18).

Untuk memahami posisi internasional itu, harus dipahami 4 (empat) tipologi negara berikut (h.19-20) :

Pertama, negara pertama (al-daulah al-ula), yaitu negara yang paling berpengaruh terhadap politik internasional, seperti AS sekarang.

Kedua, negara pengikut (al-daulah al-tabi’ah), yaitu negara yang terikat dengan negara lain dalam politik luar negerinya dan sebagian masalah dalam negerinya. Misalnya, Mesir terhadap AS; dan Kazakhstan terhadap Rusia.

Ketiga, negara satelit (al-daulah allati fi al-falak), yaitu negara yang politik luar negerinya terikat dengan negara lain dalam ikatan kepentingan, bukan dalam ikatan sebagai pengikut. Misalnya Jepang terhadap AS; Australia terhadap AS dan Inggris; Kanada terhadap AS, Inggris, dan Perancis; dan Turki terhadap Inggris dan AS.

Keempat, negara independen (al-daulah al-mustaqillah), yaitu negara yang mengelola politik dalam dan luar negerinya sesuai kehendaknya sendiri atas dasar kepentingannya sendiri. Misalnya Perancis, Cina, dan Rusia.

Selain itu, untuk memahami posisi internasional kita juga harus memahami Konvensi dan UU Internasional yang berlaku di dunia. HT mengingatkan, bahwa UU Internasional sekarang, asal-usulnya adalah tradisi negara-negara Kristen Eropa pada abad ke-16 M yang berusaha menghadang ekspansi jihad Khilafah Utsmaniyah. Jadi, sebutan "internasional" itu sebenarnya dusta dan penipuan (h.30).

Motif-motif yang mendorong konflik internasional juga harus dipahami dalam rangka memahami posisi internasional. Hanya ada dua motif konflik : Pertama, cinta kepemimpinan dan kebanggaan. Kedua, dorongan di balik manfaat-manfaat material. Cinta kepemimpinan (hubb al-siyadah) bisa berupa cinta kepemimpinan terhadap umat dan bangsa, seperti halnya Nazisme Jerman dan Fasisme Italia. Bisa juga berupa cinta kepemimpinan terhadap ideologi dan penyebaran ideologi, sebagaimana halnya negara Khilafah selama hampir 1300 tahun (h. 54).

3. Masalah-Masalah Besar Dunia

Kitab Mafahim Siyasiyah juga menjelaskan 6 masalah besar dunia, yaitu masalah-masalah : (1) Eropa, (2) Timur Tengah, (3) Timur Jauh, (4) Asia Tengah, (5) Anak Benua India, (6) Afrika (h. 60).

Ada lima alasan mengapa konflik politik internasional dibatasi pada 6 masalah besar tersebut; Pertama, konflik antar negara adidaya terjadi pada kawasan-kawasan tersebut. Kedua, bangsa-bangsa di kawasan tersebut hidup dalam suasana bergolak dan tidak terkendali. Ketiga, sebagian besar peristiwa-peristiwa politik dunia terjadi di kawasan-kawasan tersebut sehingga dapat menjadi contoh untuk memahami masalah-masalah politik lainnya. Keempat, kawasan-kawasan ini sangat kaya dengan sumber daya alam. Kelima, benua AS telah berhasil disterilkan dari konflik sejak Doktrin Monroe tahun 1823. Dengan doktrin ini, benua AS tidak dapat dikategorikan kawasan konflik internasional (h. 61).

Yang menarik, ketika membicarakan Indonesia dan Malaysia dalam bab Masalah Timur Jauh, HT memandang adanya peluang besar untuk menyatukan dua negeri muslim tersebut (h. 124). Jika terjadi unifikasi kedua negeri tersebut atas dasar ideologi Islam, yang didukung faktor-faktor geografis, demografis, sains teknologi, serta komunikasi dan transportasi, maka akan terwujud satu kekuatan besar yang menentukan di kawasan Timur Jauh, khususnya untuk menghadapi dominasi AS.

4. Sebab Penderitaan Dunia

Kitab Mafahim Siyasiyah selanjutnya menjelaskan sebab-sebab penderitaan dunia dan bagaimana solusinya. Menurut HT, penderitaan dunia disebabkan oleh tiga faktor, yaitu adanya :

(1) UU Internasional, yang diterapkan secara paksa dengan jalan militer. Itulah yang menyebabkan AS dan Inggris menjadi polisi dunia untuk menjaga UU Internasional dengan menginvasi Irak tahun 2003.

(2) Koalisi/aliansi negara-negara adidaya. Koalisi-koalisi semacam inilah yang telah mengobarkan Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

(3) Imperialisme. Inilah yang telah menimbulkan kemiskinan yang menyedihkan di negara-negara Dunia Ketiga, termasuk Dunia Islam.

Solusi untuk UU Internasional, adalah dengan menghapuskannya. Sebab UU itu bersifat memaksa yang diterapkan oleh negara internasional (bernama PBB) dengan jalan militer. Ini kezaliman dan tidak boleh terjadi.

Solusi untuk ide koalisi internasional, adalah dengan membentuk opini umum internasional yang mengecamnya secara keras.

Solusi untuk imperialisme, adalah menghancurkan ideologi kapitalisme yang telah melahirkan ide imperialisme itu, melalui perdebatan internasional di berbagai level forum (h. 160-164).

5. Bagaimana Mempengaruhi Politik Dunia

HT memandang, seorang individu dapat mempengaruhi perpolitikan dunia. Caranya adalah melakukan aktivitas politik bukan sebagai individu, melainkan sebagai bagian dari umat, atau bagian organisasi, atau bagian negara, yang akan berpengaruh terhadap politik dunia.

Jadi, meski seorang individu bukan pihak yang mampu menetapkan atau menerapkan kebijakan dunia, tetapi dia termasuk orang yang berambisi untuk bisa menetapkan maupun menerapkan kebijakan dunia, atau termasuk orang yang mengawasi orang-orang yang menetapkan atau menerapkan kebijakan dunia (h. 165).

Agar bisa berpengaruh terhadap politik dunia, seorang individu haruslah mempunyai kesadaran politik yang sempurna.

6. Kesadaran Politik

Kesadaran politik adalah pandangan terhadap dunia dengan sudut pandang khusus. Bagi umat Islam sudut pandang itu adalah Aqidah Islamiyah (h. 167).

Kesadaran politik ini harus dimiliki oleh masyarakat umum, bukan hanya dimiliki individu-individu politisi saja. Cara mewujudkannya, dengan melakukan pembinaan politik, baik pembinaan ideologi Islam maupun pembinaan dengan mengikuti peristiwa-peristiwa politik dunia yang terjadi.

Pembinaan politik itulah yang akan membentuk kesadaran politik di kalangan umat Islam dan yang akan dapat terus melahirkan politisi-politisi yang cerdas (h. 174). [ ]

DAFTAR PUSTAKA

Hizbut Tahrir. 1969. Mafahim Siyasiyah li Hizb al-Tahrir.t.tp. : Hizbut Tahrir.

----------. 1973. Nazharat Siyasiyah li Hizb al-Tahrir. t.tp. : Hizbut Tahrir.

----------. 1994. Afkar Siyasiyah. Beirut : Darul Ummah.

----------.2005. Mafahim Siyasiyah li Hizb al-Tahrir.t.tp. : Hizbut Tahrir.

No comments: