Saturday, July 26, 2008

Khilafah: Perlawanan Ideologi

Penjajahan merupakan metod (thariqah) negara kapitalis untuk menguasai negara lain. Hanya saja yang berbeda adalah bentuknya. Di Iraq, Afganistan dan Palestin, penjajah langsung menduduki negeri tersebut, membunuh dan merampas kekayaan alam negeri Islam itu. Adapun secara politik hampir semua negeri Islam berada di bawah dominasi politik negara kapitalis. Penguasa negeri Islam benar-benar dikontrol oleh negara-negara maju. Politik luar negerinya juga sama. Semuanya menagih kepentingan politik negara-negara imperialis seperti Amerika Serikat. Di bidang ekonomi, kekayaan alam negeri-negeri Islam dirompak dengan berbagai cara, baik secara langsung seperti di Iraq ataupun atas nama pelaburan asing, pasar bebas, dan pinjaman hutang luar negeri.
Kita yakin, semua bangsa akan menolak penjajah, kecuali para pengkhianat yang menjadi agen-agen penjajah. Yang berbeda adalah bagaimana cara menyikapi penjajahan itu. Pertama: bersikap fatalistik. Pasrah bangsa dan negerinya dijajah. Menganggap tidak ada yang bisa diperbuat kerana para penjajah sangat kuat. Berlindung di balik takdir. Bangsa seperti ini kemudian menghibur diri bahwa Tuhan pasti akan menolong mereka. Sikap seperti ini jelas tidak menolong sama sekali. Penjajahan akan terus berlangsung, kalau tidak ada yang melakukan perlawanan.
Islam jelas melarang fatalisme seperti ini. Islam mengajarkan kepada kita kaedah sababiyah (sebab-akibat) yang harus kita penuhi dalam beramal. Rasulullah saw. telah memberikan contoh kepada kita. Untuk bisa memenangkan perang, di samping berdoa dengan sungguh-sungguh dan penuh harap, Rasulullah juga merancang strategi perang dan menugaskan orang-orang yang memang pakar dalam berperang. Beliau tidak pernah hanya berdiam diri, berharap orang lain menerima dakwahnya. Beliau secara serius dan penuh pengorbanan tidak kenal lelah berdakwah, menyampaikan Islam ke seluruh pelosok negeri.
Kedua: pragmatik. Berfikir jangka pendek dan keuntungan sesaat. Bangsa seperti ini kemudian memilih bersikap kompromistik terhadap penjajahan. Dengan alasan penjajah Barat sangat berat untuk kita lawan, lebih baik kita mengikuti mereka, bekerjasama, sambil tetap meraih keuntungan, walaupun sedikit. Pragmatisme inilah yang sekarang dipilih oleh banyak penguasa negeri Islam.
Kekayaan negeri Islam dibiarkan dirompak atas nama pelaburan asing dan pasar bebas. Perusahaan minyak asing masuk mengekploitasi minyak, emas, hasil galian, dan kekayaan alam lainnya. Adapun penguasa negeri Islam cukup puas hanya dengan mendapat pajak atau pembahagian keuntungan yang sangat kecil. Alasannya, daripada kita diboikot AS atau diperangi oleh AS.
Untuk mendapat simpati AS atau khuatir diserang AS, negara seperti Saudi, Bahrain, Kuwait dan Turki, mereka bukannya menolong Irak, malah membantu AS. Negara-negara ini mempersilakan tanah dan udaranya digunakan tentera negara penjajah ini. Dari pangkalan tentera inilah Iraq diserang dan puluhan ribu umat Islam di Iraq pun tewas. Musharaf, dengan alasan takut diserang AS, memberikan fasiliti dan kelancaran bagi negara-negara penjajah menyerang saudaranya sesama Muslim di Pakistan dan Afganistan.
Ketiga: perlawanan ideologi. Menolak sama sekali hubungan dengan negara-negara penjajah. Perlawanan ideologi ini dilakukan secara total dengan cara mengganti sistem ideologi Kapitalisme yang menjadi pangkal penjajahan.
Perlawanan ideologi juga ditunjukkan dengan menolak hutang luar negeri yang ditawarkan negara-negara kapitalis, kerana ia hanya merupakan perangkap; menolak masuknya perusahaan asing yang ingin merompak kekayaan alam negeri-negeri Muslim; tidak tunduk kepada arahan IMF, Bank Dunia, dan PBB—institusi yang sesungguhnya merupakan alat politik penjajahan negara imperialis; tidak memberikan celah sedikit pun bagi negara asing untuk menguasai negerinya, melakukan upaya pecah-belah dan disintegrasi.
Perlawanan ideologi ini juga ditunjukkan dengan cara menerapkan syariah Islam dan Khilafah yang akan menghentikan penjajahan negara-negara kapitalis.
Khilafah akan mempersatukan umat Islam dan menjadi negara gergasi (super power) yang membebaskan negeri-negeri Islam dari penjajahan. Dengan Khilafah sebagai negara super power, umat Islam akan diperhitungkan oleh negara lain. Penghinaan terhadap Islam akan dijawab dengan seruan jihad yang memobilisasi seluruh umat Islam di dunia. Ini jelas akan menimbulkan ketakutan bagi negara-negara Kapitalis.
Tentunya, perlawanan ideologi ini memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang besar. Namun, inilah pilihan yang dalam jangka panjang dan tuntas akan menyelesaikan persoalan kaum Muslim. Sangat mungkin pada tahap awal umat Islam akan mengalami kesulitan. Namun, kesulitan ini tidak akan berlangsung lama. Tegaknya Khilafah yang menerapkan syariah Islam secara total akan menjamin kemakmuran, kesejahteraan, dan keamanan bagi rakyat.
Sebaliknya, dengan bersikap berkompromi, seakan-akan kita mendapat keuntungan, namun pada hakikatnya, kita, misalnya, mendapat hibah atau bantuan hutang luar negeri. Padahal hutang luar negeri justeru akan menjerat negeri-negeri Islam, menimbulkan ketergantungan, dan pada gilirannya dijadikan alat untuk mendiktator negeri-negeri Islam. Bagi negara kapitalis, there’s no free lunch (tidak ada makan siang percuma); pasti ada motif di balik semua itu. Bantuan AS ini hanya gincu saja untuk menutupi agenda jahatnya. Agar tampak manis AS memberi bantuan jutaan dolar. Namun, melalui Exxon, Freeport, Caltex, Newmont, dsb, AS mendapat ratusan miliar dolar dari penguasaan sumber daya alam di negeri-negeri Muslim.
Sikap pragmatik dan kompromistik kepada penjajah membuat negeri-negeri Islam lemah dan tidak punya harga diri. Akibatnya, umat Islam tampak lemah menyelamatkan saudaranya di Bosnia, Iraq, Palestin dan Afganistan. Berbagai penghinaan terhadap Islam, al-Quran dan Rasulullah pun terus berlangsung. Kerana dikuasai oleh negara maju, penguasa negeri-negeri Islam memilih diam, mengecam seadanya, dan tidak melakukan tindakan konkrit untuk menyelesaikan masalah.
Sebagai Muslim sejati, pastilah kita memilih pilihan yang benar, yakni perlawanan ideologi.

1 comment:

Tentara Daulah Islam Melayu said...

Ad Daulatul Islamiyah Melayu
Khilafah Islam Akhir Zaman

Kami mengundang Kaum Mukminin-Mukminat
Dari seluruh Dunia untuk bergabung bersama kami

Menjadi Tentara Islam dan mari
Berjihad dalam Khilafah Islam demi Tegaknya Kedaulatan Dinul Islam.

Tinggalkan Semua Kemusyrikan Mari Menjadi Bagian Bangsa Islam berdasar Aqidah Islam
dan Kini Saatnya Meledakkan Api Jihad Akhir Zaman Mari Perangi Para Mulkan Jabriyan

Kunjungi Undangan kami
Kehadiran Anda kami tunggu di
di http://khilafahislam.de.pl