Wednesday, August 6, 2008
MEWASPADAI ORIENTALISME
Orang yang berpikiran liberal-sekular umumnya tidak kritis terhadap orientalisme. Di satu sisi mereka memang bisa sangat kritis (dan liar) terhadap doktrin-doktrin Islam yang sebetulnya sudah baku dan mapan (ma’luumun min al-din bi al-dharurah), seperti kenabian Muhammad SAW, otentisitas Al-Qur`an, wajibnya Khilafah, dan wajibnya formalisasi syariah oleh negara. Namun anehnya, di sisi lain daya kritis ini tiba-tiba menjadi tumpul dan bebal ketika berhadapan dengan karya-karya kaum orientalis yang kafir.
Sebagai contoh, lihat saja sikap Luthfi Asy-Syaukanie dalam bukunya Islam Benar Versus Islam Salah (2007). Dalam salah satu refleksinya berjudul Islam Perdana [baca : asal-usul agama Islam], Luthfi memuji habis-habisan para orientalis yang menjelaskan asal-usul agama Islam dari berbagai aspeknya. Misalnya, Arthur Jeffrey (1905-1969) dari aspek sejarah Muhammad SAW, Theodore Noldeke (1836-1930) dari aspek sejarah Al-Quran, Nabia Abott dari aspek sejarah hadis, dan Joseph Schacht (1902-1969) dari aspek sejarah fikih. Tak lupa Luthfi mempropagandakan karya Montgomery Watt berjudul The Formative Period of Islamic Thought, yang dipuja dan dipuji oleh Luthfi sebagai,”Buku yang agak komprehensif tentang Islam perdana.” (Luthfi, 2007: 41). (Lihat Qosim Nursheha Dzulhadi, “Islam Perdana” atawa Islam ala Orientalis?", www.hidayatullah.com).
Tulisan ini tidak bertujuan secara khusus mengkritisi Luthfi Asy-Syaukanie, namun bertujuan lebih umum, yaitu untuk menjelaskan seputar orientalisme itu sendiri, walau pun serba singkat. Harapannya, agar kita dapat bersikap kritis dan waspada terhadap orientalisme. Sebab orientalisme walaupun terkesan ilmiah dan objektif, namun menurut Ahmad Abdul Hamid dalam kitabnya Ru`yah Islamiyah li Al-Istisyraq (hal. 7), tujuannya sangatlah jahat, yaitu antara lain : Pertama, menjelek-jelekkan Islam serta membuat umat Islam ragu dan sesat terhadap ajaran Islam; Kedua, memaksakan dominasi Barat atas umat Islam dan melegitimasi dominasi ini dengan studi-studi dan teori-teori yang diklaim ilmiah dan objektif; dan Ketiga, mendesakkan klaim bahwa Barat yang Kristen memiliki keunggulan ras dan budaya di atas umat Islam. (Lihat Muthabaqani, Al-Istisyraq, hal. 4).
Pengertian Orientalisme
Banyak definisi orientalisme di kalangan para pakar dan ulama. Menurut Dr. Muthabaqani, pakar orientalisme dari Fakultas Dakwah Universitas Imam Muhammad Ibnu Sa’ud Madinah, istilah orientalisme mulai muncul sejak dua abad yang lalu [abad ke-18 M], meski aktivitas kajian bahasa dan sastra ketimuran (khususnya Islam) telah terjadi jauh sebelumnya.
Muthabaqani menyatakan bahwa istilah orientalis muncul lebih dulu daripada istilah orientalisme. A.J. Arberry (1905-1969) dalam kajiannya menyebutkan istilah orientalis muncul tahun 1638, yang digunakan oleh seorang anggota gereja Timur (Yunani). Pada tahun 1691, istilah orientalis digunakan oleh Anthony Wood untuk menyebut Samuel Clarke sebagai “orientalis yang cerdas”, karena mengetahui beberapa bahasa Timur. (Muthabaqani, Al-Istisyraq, hal. 2-3).
Menurut Rudi Paret (orientalis Jerman, lahir 1901) orientalisme adalah “ilmu ketimuran (‘ilmu al-syarq) atau ilmu tentang dunia timur (‘ilmu al-‘alam al-syarqiy).” Sementara A.J. Arberry menggunakan Kamus Oxford untuk mendefinisikan orientalis, yaitu “orang yang mendalami berbagai bahasa dan sastra dunia timur.” (Muthabaqani, Al-Istisyraq, hal.3).
Sementara itu Maxime Rodinson (orientalis Perancis, lahir 1915) menerangkan bahwa istilah orientalisme muncul dalam bahasa Perancis tahun 1799 dan dalam bahasa Inggris tahun 1838. Orientalisme ini, menurut Rodinson, lahir untuk memenuhi kebutuhan “mewujudkan satu cabang pengetahuan khusus untuk mengkaji dunia timur.” Rodinson menambahkan bahwa kebutuhan ini amat mendesak, agar terwujud orang-orang spesialis yang siap untuk menerbitkan berbagai majalah, mendirikan berbagai universitas, dan berbagai departemen ilmiah.” (Muthabaqani, Al-Istisyraq, hal.3).
Muthabaqani juga menjelaskan definisi orientalisme menurut kritikus orientalisme yang terkenal, yaitu Edward Sa`id dalam bukunya Orientalism (New York : Vintage Books, 1979). Edward Sa`id dalam Orientalism hal. 92 menyatakan,”Orientalisme adalah bidang pengetahuan atau ilmu yang mengantarkan pada [pemahaman] dunia timur secara sistematis sebagai suatu objek yang dapat dipelajari, diungkap, dan diaplikasikan.” (Muthabaqani, ibid., h.4).
Definisi lain yang lebih ideologis dikutip juga oleh Muthabaqani dari pendapat Ahmad Abdul Hamid, dalam kitabnya Ru`yah Islamiyah li Al-Istisyraq (hal. 7). Menurut Ahmad Abdul Hamid, orientalisme adalah “studi-studi akademis yang dilakukan oleh orang-orang Barat yang kafir –khususnya Ahli Kitab— terhadap Islam dan kaum muslimin, dari berbagai aspeknya : aqidah, syariah, budaya (tsaqafah), peradaban (hadharah), sejarah, sistem-sistem kehidupanya (nuzhum), kekayaaan alam, dan potensi-potensinya…” (Muthabaqani, ibid., h.4).
Dari berbagai definisi orientalisme di atas, Dr. Muthabaqani sendiri akhirnya mendefinisikan orientalisme secara cukup komprehensif. Orientalisme, menurut Muthabaqani, adalah “segala sesuatu yang bersumber dari orang-orang Barat, yaitu dari orang-orang Eropa (baik Eropa Barat maupun Timur, termasuk Soviet) dan orang-orang Amerika, berupa studi-studi akademis yang membahas masalah-masalah Islam dan kaum muslimin, di bidang aqidah, syariah, sosial, politik, pemikiran, dan seni.” (ibid., h. 4).
Termasuk juga dalam orientalisme, kata Muthabaqani, adalah : (1) segala sesuatu yang disebarluaskan oleh media massa Barat baik dengan bahasa mereka maupun bahasa Arab, melalui koran, radio, televisi, film, kartun, dan saluran-saluran luar angkasa, yang menyangkut Islam dan kaum muslimin; (2) segala sesuatu yang ditetapkan oleh para peneliti dan politisi Barat dalam berbagai konferensi dan seminar mereka, baik yang terbuka maupun yang rahasia; (3) segala sesuatu yang ditulis oleh orang Arab Kristen, seperti kaum Maronit, yang memandang Islam dengan kacamata Barat; (4) segala sesuatu yang disebarluaskan oleh para peneliti muslim, yang belajar kepada para orientalis dan mengadopsi banyak pikiran kaum orientalis, hingga sebagian murid orientalis itu bahkan melampaui guru-gurunya dalam hal penggunaan teknik dan metode yang lazim dalam orientalisme. (Muthabaqani, ibid., h.4).
Namun meski sering terkait dengan Islam dan kaum muslimin, Muthabaqani segera menambahkan, orientalisme tetap mengkaji bangsa-bangsa timur secara umum, seperti bangsa India, Asia Timur, Cina, Jepang dan Korea. Jadi, orientalisme memang tidak hanya mengkaji Islam dan kaum muslimin.
Yang menarik dari definisi orientalisme Muthabaqani di atas, beliau memasukkan karya intelektual muslim yang dipengaruhi oleh orientalis, sebagai kegiatan orientalisme. Karena itu, Fazlurahman boleh juga disebut seorang orientalis, karena dia mengadopsi pikiran Joseph Schahcht tentang sejarah hukum Islam. Harun Nasution, juga seorang orientalis, karena memandang sunnah (hadits) dengan cara pandang orientalis, seperti Schacht dan Ignaz Goldziher. Nurcholish Madjid (murid Fazlurahman) juga tiada lain seorang orientalis, karena banyak mengadopsi pikiran sekuler dari Harvey Cox dalam bukunya The Secular City (1967). Walhasil, Luthfi Asy-Syaukanie juga hakikatnya seorang orientalis, karena banyak mengadopsi ide kaum orientalis seperti Arthur Jeffrey, Theodore Noldeke, dan Joseph Schacht.
Seorang pemikir muda yang brilian, Adnin Armas MA, bahkan menulis buku khusus yang membuktikan adanya pengaruh kristen-orientalis itu terhadap kaum liberal di Indonesia. Bacalah bukunya yang berjudul Pengaruh Kristen-Orientalis Terhadap Islam Liberal : Dialog Interaktif dengan Aktivis Jaringan Islam Liberal, (Jakarta : Gema Insani Press, 2003), juga bukunya yang lain Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur`an: Kajian Kritis, (Jakarta : Gema Insani Press, 2005).
Inilah nampaknya yang dapat menjelaskan mengapa orang liberal-sekular tidak mampu bersikap kritis terhadap orientalisme. Bagaimana bisa kritis, wong orang liberal itu sebenarnya juga orientalis. Sesama orientalis, sudah selayaknya saling menghormati dan memuji, bukan?
Munculnya Orientalisme
Kapan munculnya orientalisme dalam lintasan sejarah umat Islam? Nampaknya tidak mudah menjawab pertanyaan ini, karena para ahli berbeda pendapat. Sebagian ahli berpendapat, munculnya orientalisme berbarengan dengan kemunculan Islam itu sendiri. Barangkali argumennya adalah perhatian para pemuka agama Kristen terhadap Islam di Habasyah ketika sebagian kaum muslimin berhijrah ke sana. Selain itu, Rasulullah SAW juga pernah mengirimkan surat kepada raja-raja di sekitar Jazirah Arab, termasuk kepada Heraklius raja Romawi yang Kristen. Perang Mu`tah juga dipandang sebagai konflik militer pertama antara umat Islam dan umat Kristen. Ada juga yang berpendapat, orientalisme bermula pasca Perang Salib (abad ke-11 sampai ke-13 M), setelah bangsa Eropa yang Kristen mengalami kekalahan dari kaum muslimin, khususnya kekalahan Louis IX di kota Al-Manshurah tahun 1290-an (Muthabaqani, ibid., h. 6).
Pendapat yang lain menyatakan, orientalisme bermula dari keputusan Gereja Wina yang menyerukan dibentuknya lembaga studi untuk mempelajari bahasa Arab, Iberani, dan Suryani di sejumlah kota Eropa seperti Paris, Oxford, dan lain-lain. Namun peneliti Inggris bernama P.M. Holt menolak peristiwa itu sebagai awal orientalisme, karena keputusan gereja itu ternyata tidak dilaksanakan secara semestinya. (ibid.)
Masih ada pendapat lain lagi. Pendapat ini mengatakan bahwa awal oreintalisme adalah konflik antara kaum muslimin dan Kristen di Andalusia (Spanyol) sekitar abad ke-15 M. Syaikh Musthafa As-Siba’iy cenderung pada pendapat ini (ibid.).
Dari sekian pendapat ini, mana yang lebih mendekati kebenaran? Muthabaqani mengutip pendapat Dr. Ali an-Namlah dalam kitabnya Al-Istisyraq wa Al-Adabiyat Al-‘Arabiyah hal. 31-33 yang berkata,”Bahwa semua peristiwa-peristiwa itu hanyalah tanda-tanda awal (irhashat) bagi orientalisme. Apa yang datang setelah itu dapat dianggap sebagai pendalaman ide tentang orientalisme, perluasan orientalisme, dan peningkatan perhatian terhadap orientalisme.” Jadi, titik awal yang sesungguhnya dari orientalisme adalah sejak abad ke-16 M, yakni suatu masa di mana Eropa tengah mengalami kebangkitan dengan aktivitas Reformasi Gereja, Renaissance, dan Humanisme. Sejak abad ke-16 itulah di Eropa mulai banyak karya cetak berbahasa Arab, juga mulai banyak lembaga-lembaga kajian yang mengeluarkan berbagai karya berupa buku. Pada tahun 1632 telah terbentuk lembaga studi bahasa Arab di Cambridge, dan pada tahun 1638 terbentuk pula di Oxford. (Muthabaqani, ibid.)
Tujuan-Tujuan Orientalisme
Apa yang menjadi tujuan kaum orientalis dalam melakukan kegiatannya? Jelas, tujuan-tujuan orientalis ini beraneka ragam (li al-istisyraq ahdaf muta’addidah) (Ash-Shanqary, Al-Islam wa Al-Gharb, hal. 28-29). Secara lebih terperinci, Muthabaqani dalam al-Istisyraq (h. 6-11) menerangkan tujuan-tujuan utama orientalisme, yaitu :
1. Tujuan Agama : Tak diragukan lagi, tujuan ini merupakan salah satu tujuan terpenting orientalisme. Mengapa? Karena para pemuka Kristen melihat agama Islam mempunyai kekuatan dan magnet yang besar untuk dapat dianut orang Kristen. Maka karena kedengkiannya, para pemuka Kristen melancarkan orientalisme guna menjelek-jelekkan Islam (tasywih al-Islam) agar orang-orang Kristen menjauhkan diri dari Islam (tanfir al-nashara min al-islam).
2. Tujuan Ilmiah : Orang-orang Eropa yang mulai bangkit di abad ke-16 membutuhkan banyak inspirasi untuk kebangkitannya. Karena itulah, mereka mengkaji berbagai penemuan ilmiah yang ditemukan kaum muslimin dalam berbagai bidang pengetahuan. Ketika orang-orang Barat mengkaji suatu bidang ilmu yang sudah lebih dulu diterjuni intelektual muslim, dapat dipastikan mereka lalu menerjemahkan kitab-kitab kaum muslimin itu, dan mengadopsi kandungannya. Francis Bacon yang menulis Novum Organum (Alat Berpikir Baru) di abad ke-16, mendapatkan inspirasi cara berpikir yang empiris (induktif) dari karya-karya kaum muslimin dari masa Khilafah Abbasiyah. Sebelum itu, di Abad Pertengahan (abad ke-5 hingga ke-15 M), cara berpikir yang dominan di Barat adalah logika Aristotelian yang deduktif, yang meremehkan pengamatan empiris.
3. Tujuan Ekonomi : Pada saat Eropa mengalami kebangkitan ilmiah, pemikiran, dan industri, mereka membutuhkan bahan-bahan mentah bagi industrinya dan sekaligus membutuhkan pasar-pasar baru untuk menjual produksinya yang melimpah. Dari sinilah, negeri-negeri Islam seperti negeri-negeri Arab, Afrika Utara, dan Asia, merupakan sasaran empuk bagi mereka. Karena itulah, mereka harus mempelajari negeri-negeri Islam ini dengan mempelajari agama penduduknya, politiknya, budayanya, perekonomiannya, dan lain-lain, agar Barat tahu bagaimana cara berinteraksi (baca : menjajah) umat Islam.
4. Tujuan Politik : Orientalisme tidak dapat secara polos kita anggap terpisah dari imperialisme Barat. Bahkan keduanya saling menunjang satu sama lain. Orientalisme adalah pelayan imperialisme. Para orientalis memasok berbagai informasi kepada para penjajah berupa informasi keagamaan, bahasa, politik, ekonomi, sejarah, budaya, kekayaan alam, dan sebagainya dari negeri yang hendak dijajah.
5. Tujuan Budaya : Penyebaran budaya Barat (ats-tsaqafah al-gharbiyah) merupakan salah satu tujuan utama orientalisme. Di negeri-negeri Arab, misalnya, kaum orientalis berusaha menyebarkan bahasa-bahasa Eropa, seperti bahasa Inggris dan Perancis. Sebaliknya, mereka berusaha memusnahkan bahasa Arab yang fasih (fush-hah). Orientalis juga menyebarkan berbagai paham Barat, seperti nasionalisme dan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) di negeri-negeri Islam. (Lihat Muthabaqani, al-Istisyraq, h. 6-11; lihat juga An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyah, hal. 85-92, bab Al-Ghazw At-Tabsyiri dan bab Al-‘Ada` Ash-Shalibi).
Pengaruh-Pengaruh Orientalisme
Aktivitas orientalisme yang dilakukan di negeri-negeri Islam tentu saja menimbulkan berbagai dampak atau pengaruh yang sangat buruk dan mengerikan. Di antaranya :
1. Pengaruh Aqidah : di antara pengaruh orientalisme, adalah pengaruh di bidang aqidah, yaitu lahirnya generasi sekuler, baik di kalangan intelektual, pemerintah, militer, maupun orang awam di Dunia Islam. Mereka semuanya menjadi satu arus dan trend yang meneriakkan pemisahan agama dari kehidupan, atau yang dalam bahasa Arab disebut al-‘ilmaniyah (tepatnya : as-sikulariyah). Padahal aqidah ini sangat bertolak belakang dengan Aqidah Islam, sebab Aqidah Islam terikat (bukan terpisah) dengan segala bidang kehidupan, dengan seperangkat hukum-hukum Syariahnya.
Pengaruh lainnya, adalah merebaknya kecenderungan terhadap ide-ide marjinal yang menyimpang dari Aqidah Islam, seperti tashawwuf Ibnu ‘Arabiy (Wihdatul Wujud) yang mendapat perhatian khusus dari kalangan orientalis.
2. Pengaruh Sosial : Kaum orientalis karena didorong kebenciannya terhadap Islam dan umat Islam, berusaha mencari faktor yang dapat merusak soliditas masyarakat muslim. Contohnya, di Aljazair, orientalis menghapuskan kepemilikan umum (atas tanah publik) yang akhirnya membuat terpecah belahnya beberapa kabilah. Padahal sebelumnya mereka hidup rukun dan damai dengan konsep kepemilikan umum yang ada dalam ajaran Islam. Pengaruh sosial lainnya adalah terancamnya keutuhan keluarga, karena kaum orientalis menaruh perhatian besar pada ide-ide gender dan feminisme yang membodohi sekaligus memprovokasi kaum muslimah untuk memberontak terhadap hukum-hukum Islam tetang pengaturan keluarga (misalnya masalah ketaatan kepada suami, nafkah, dan hak cerai).
3. Pengaruh Politik-Ekonomi : Orientalis misalnya mempropagandakan sistem demokrasi dan dikatakannya sebagai sistem politik paling ideal untuk umat manusia. Pada saat yang sama, mereka menyerang dan menjelek-jelekkan sistem politik Islam, yaitu Khilafah. Thomas W. Arnold, misalnya, dalam bukunya Caliphate (Lahore: 1966) hal. 25, menuding bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab dapat menjadi khalifah, lantaran keduanya telah melakukan suatu persekongkolan. Orientalis lain, Bernard Lewis, menyatakan bahwa sistem politik Islam adalah sistem diktator yang memaksakan ketundukan dan kehinaan atas bangsa-bangsa muslim. Bahkan lebih dari itu, Bernard Lewis menganggap sistem politik Islam menyerupai sistem komunis dalam hal kediktatoran dan kesewenang-wenangannya (Lihat B. Lewis,”Communism and Islam,“ dalam International Affairs, Vol. 30, 1954.pp 1-12).
Sementara itu dalam bidang ekonomi, orientalis mempropagandakan sistem ekonomi kapitalis dan sosialis. Pada saat yang sama, mereka menyerang sistem ekonomi Islam. Muhammad Khalifah mengatakan,”Kaum orientalis dalam aksi mereka mempropagandakan sistem ekonomi Barat, melakukan penafsiran ulang terhadap sejarah ekonomi Islam dengan perspektif kapitalisme dan komunisme sebagai dasar untuk kedua sistem tersebut…” (Muthabaqani, ibid, h. 16)
4. Pengaruh Budaya-Pemikiran (tsaqofiyah-fikriyah) : Sungguh kaum orientalis telah memetik kemenangan besar di bidang budaya dan pemikiran di Dunia Islam. Buktinya, cara pandang atau perspektif orientalis telah menjadi sumber pemahaman bagi umat untuk memahami Islam, setelah sebelumnya umat Islam hanya menggunakan cara pandang dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, menurut tuntunan para ulama muslim. Umat Islam kini meyakini demokrasi, sebagai ganti dari keyakinan terhadap sistem politik Islam (Khilafah). Umat Islam lebih meyakini sistem ekonomi kapitalisme, daripada sistem ekonomi Islam. Demikian pula cara pandang orientalis di bidang ilmu sosiologi, psikologi, sejarah, dan sebagainya telah mengisi, memenuhi, sekaligus meracuni otak generasi muda Islam, yang sebelumnya terisi dengan pemikiran-pemikiran Islam yang cemerlang. (Muthabaqani, ibid, h. 17).
Penutup
Itulah sekilas tentang orientalisme. Yang kami tulis ini tentu hanya sekelumit saja, di tengah sekian banyak literatur cerdas yang menerangkan bahaya orientalisme yang sudah semestinya kita waspadai. Janganlah terlalu polos dan lugu, dengan menganggap kajian orientalis adalah objektif dan ilmiah. Perluaslah wawasan! Bersikap kritislah terhadap orientalisme! Bibliografi yang kami tulis di bawah ini barangkali dapat sedikit memberikan inspirasi mengenai apa yang kiranya perlu dibaca untuk mendalami masalah ini.
Kami ingin menutup uraian sederhana ini dengan mengutip ayat dan hadits yang memberi pedoman kepada umat Islam, hendaknya mereka tidak mengikuti kaum orientalis yang kafir. Allah SWT berfirman (artinya) :
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS Al-Baqarah [2] : 120)
Rasulullah SAW bersabda :
“Sungguh kamu akan mengikuti jalan-jalan [hidup] orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga kalau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kamu pun akan mengikuti mereka. Para sahabat bertanya,”Apakah mereka orang Yahudi dan Nasrani?” Rasul SAW menjawab,”Siapa lagi?” (HR Bukhari dan Muslim). [ ]
= = = =
*Disampaikan dalam Kajian Selasa Pagi, 12 Pebruari 2008, di Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
**Anggota DPP Hizbut Tahrir Indonesia; Pengasuh Ma’had Taqiyuddin An-Nabhani, Yogyakarta; Pengelola Situs www.khilafah1924.org; Dosen STEI Hamfara Yogyakarta.
BIBLIOGRAFI
A’zami, M.M., The History of The Qur`anic Text From Revelation to Compilation : A Comparative Study with the Old and New Testaments (Sejarah Teks Al-Qur`an dari Wahyu sampai Kompilasi Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), Penerjemah Sohirin Solihin dkk, (Jakarta : Gema Insani Press), 2005.
----------, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Studies in Early Hadith Literature), Penerjemah Ali Mustafa Ya’kub, (Jakarta : Pustaka Firdaus), Cetakan III, 2006.
Armas, Adnin, Pengaruh Kristen-Orientalis Terhadap Islam Liberal : Dialog Interaktif dengan Aktivis Jaringan Islam Liberal, (Jakarta : Gema Insani Press), 2003.
----------, Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur`an: Kajian Kritis, (Jakarta : Gema Insani Press), 2005.
Ash-Shalih, Subhi, Mabahits fi Ulum al-Qur`an, (Beirut : Darul ‘Ilmi lil Malayin), 1988.
----------, ’Ulumul Hadits wa Mustholahuhu, (Beirut : Darul ‘Ilmi lil Malayin), 1988.
Ash-Shanqary, Nashr bin Muhammad, Al-Islam wa Al-Gharb : Syiqaaq am Wifaq, (www.saaid.net)
An-Nabhani, Taqiyuddin, Ad-Daulah Al-Islamiyah, (Beirut : Darul Umah), 1994
Baharun, Muhammad, Isu Zionisme Internasional, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar), 1997
Husaini, Adian, Wajah Peradaban Barat Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, (Jakarta : Gema Insani Press), 2005
Dzulhadi, Qosim Nursheha, “Islam Perdana” atawa Islam ala Orientalis?", (www.hidayatullah.com)
Khalidi, Mustafa & Farrukh, Umar, At-Tabsyir wa Al-Isti’mar fi Al-Bilad Al-‘Arabiyah, (Beirut : Al-Maktabah Al-‘Ashriyah), 1986
Muthabaqani, Mazin bin Shalah, Al-Istisyraq, (www.saaid.net)
----------, Al-Istisyraq wa Makanatuhu Bayna Al-Madzahib Al-Fikriyah Al-Mu’ashirah, (www.saaid.net)
----------, Buhuts fi Al-Istisyraq Al-Amiriki al-Mu’ashir, 1999, (www.saaid.net)
----------, Ad-Dirasat al-‘Arabiyah Al-Islamiyah (Al-Istisyraq) fi Al-Intarnat, 2000, (www.saaid.net)
Syahin, Abdush Shabur, Tarikh Al-Qur`an, (Kairo : Darul Qalam), 1966
Tha’imah, Shabir, Akhthar Al-Ghazw Al-Fikri ‘ala Al-‘Alam Al-Islami, (Beirut : ‘Alam Al-Kutub), 1984
Zanaty, Anwar Muhammad, Mu’jam Iftira`at Al-Gharb ‘Ala Al-Islam, (www.saaid.net)
Tuesday, August 5, 2008
Kristianisasi dan Kejahatannya
Kristenisasi dan Kejahatan-Kejahatannya
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGKAJIAN ISLAM (LPPI)
Masjid Al-Ihsan Lt. III Proyek Pasar Rumput Jakarta 12970
Telp./Fax. (021) 8281606
Ketika Orde Baru jaya, banyak para pejabat yang tidak percaya adanya kristenisasi besar-besaran yang telah terjadi di Indonesia. Tetapi setelah dikeluarkan buku Fakta dan Data tentang kristenisasi di Indonesia oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, semua pihak terperangah dan yakin bahwa pihak misionaris zending telah bekerja keras siang-malam untuk mengkristenkan umat Islam secara khusus.
Pada Orde Reformasi mereka semakin berani melakukan kristenisasi secara terbuka bahkan keji. Mereka menggunakan Al-Qur`an dan Hadits dengan diputarbalikkan untuk membenarkan ajaran sesat mereka, dan untuk mengelabui umat Islam. Gerakan kristenisasi bergerilya dengan kedok dakwah ukhuwwah dan shirathal mustaqim secara gencar dan tersembunyi, gerakan itu dikoordinasi oleh Yayasan NEHEMIA yang dipelopori Dr. Suadi Ben Abraham, Kholil Dinata dan Drs. Poernama Winangun alias H. Amos.
Mereka telah mengeluarkan beberapa buku di antaranya:
1. Upacara Jama`ah Haji
2. Ayat-ayat yang menyelamatkan
3. Isa `alaihis salam dalam pandangan Islam
4. Riwayat singkat pusaka peninggalan Nabi Muhammad saw
5. Membina kerukunan umat beragama
6. Rahasia jalan ke surga
7. Siapakah yang bernama Allah itu?
Isi buku-buku dan brosur tersebut di atas di antaranya:
· Upacara Ibadah Haji adalah penyembahan berhala tertutup
· Islam agama khusus untuk orang Arab, Al-Qur`an kitab suci orang Arab dan Nabi Muhammad saw adalah nabi untuk orang Arab yang mengajarkan penyembahan berhala dan tidak akan selamat di akhirat
· Tuhan orang Islam adalah batu hitam (hajar aswad)
· Waktu sholat sangat kacau dan Al-Qur`an tidak relevan
· Nabi Muhammad saw memperkosa gadis dibawah umur
· Al-Qur`an untuk Iblis, Injil petunjuk bagi umat Islam yang taqwa
· Bapaknya Yesus adalah Allah subhanahu wa ta`ala
· Semua umat masuk Neraka kecuali umat Kristen
· Nabi Muhammad saw wafat mewariskan kitab Injil
· Khadijah, istri Nabi Muhammad saw beragama kristen
Sanggahan terhadap tuduhan-tuduhan keji tersebut:
· Ibadah Haji dituduh sebagai penyembahan berhala tertutup, itu tuduhan keji. Tidak bolehnya orang non muslim ke Mekkah bukan untuk menutupi upacara ibadah haji. Dan ibadah haji itu tidak ada penyembahan berhala seperti dituduhkan H. Amos orang Kristen. Namun itu perintah langsung dari Allah swt yang artinya:Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.(Q.S. At-Taubah: 28). Tuduhan itu juga bertentangan dengan kenyataan, karena upacara ibadah haji ditayangkan pula ke berbagai negara di dunia lewat televisi. Terbukti tak ada penyembahan berhala dalam upacara ibadah haji dan tidak tertutup.
· Nabi Muhammad saw dituduh hanya rasul untuk bangsa Arab, dan tidak akan selamat di akhirat. Tuduhan itu sangat jahat, karena Allah swt telah menegaskan dalam Al-Qur`an yang artinya: Dan Kami tiada mengutusmu (Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam. (Q.S. Al-Anbiya:107). Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S.Saba`:28). Al-Qur`an adalah suatu peringatan untuk semesta alam. (Q.S. At-Takwir 27 dan Al-Qalam 52). Dan Kami turunkan Al-Qur`an kepadamu (Muhammad) supaya engkau jelaskan umat manusia, apa-apa yang diturunkan kepada mereka, supaya mereka berpikir. (Q.S. An-Nahl 44). Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi, dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-Ahzab 40)
· Tuduhan tentang Nabi Muhammad saw tidak selamat di akhirat, maka harus dibacakan sholawat, itu tuduhan keji pula. Bisa diperbandingkan dengan keadaan bahwa bayi yang meninggal dunia pasti selamat akan masuk surga. Namun bayi yang meninggal itu tetap disholati dan didoakan. Orang yang mensholati, mendoakan dan menguburkan mayit bayi ini akan mendapat pahala.
Terhadap bayi yang belum berjasa saja harus didoakan, apalagi terhadap seorang Nabi saw, yang telah sangat berjasa bagi umat manusia. Ini sudah pas dari segi ajaran agama maupun akal yang mau menerimanya.
· Tuduhan bahwa Islam mengajarkan penyembahan berhala batu hitam bernama Hajar Aswad, itu tuduhan yang amat keji dan licik. H. Amos memutarbalikkan fakta, Hajar Aswad dianggap sebagai berhala yang disisakan setelah 359 berhala dihancurkan, dengan mengutip hadits Bukhori tanpa disertai teksnya. Ternyata H. Amos sebagai orang Kristen bohong, karena Hajar Aswad bukan termasuk berhala. Teksnya Hadits Bukhari nomor 832, terjemahnya:
Dari Ibnu `Abbas ra katanya: Ketika Rasulullah saw mula-mula tiba di Makkah, beliau enggan hendak masuk Ka`bah karena di dalamnya banyak patung. Beliau memerintahkan supaya mengeluarkan patung-patung itu, maka dikeluarkan mereka semuanya termasuk patung Nabi Ibrahim dan Isma`il yang sedang memegang Azlam (alat untuk mengundi). Melihat itu Rasulullah saw bersabda:
Terkutuklah orang yang membuat patung itu!, Demi Allah sesungguhnya mereka tahu bahwa keduanya tidak pernah melakukan undian dengan Azlam, sekali-kali tidak. Kemudian beliau masuk ke dalam Ka`bah, lalu takbir di setiap pojok dan beliau saw sholat di dalamnya. (Shahih Bukhari No. 832)
· Tuduhan tentang waktu sholat sangat kacau, itu tuduhan yang sangat mengada-ada. Penuduh membentrokkan ayat-ayat dengan hadits Bukhari tanpa mau memahami Q.S. Al-Isra 78 dan Q.S. Hud 114, dibentrokkan dengan hadits Bukhari nomor 211, lalu dikomentari bahwa yang dipakai hadits, bukan Al-Qur`an. Maka dituduh kacau. Padahal kalau mau memahami, ayat-ayat maupun hadits tersebut semuanya bermakna bahwa sholat wajib adalah 5 waktu sehari semalam, yaitu Shubuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan `Isya.
· Nabi Muhammad saw dituduh memperkosa gadis dibawah umur, itu tuduhan yang sangat menghina. Tuduhan itu hanya menunjukkan kebencian yang amat sangat, dan tidak bisa mengemukakan bukti-bukti larangan tentang menikahi gadis dalam batasan umur. Padahal umur 9 tahun seperti `Aisyah yang mulai diajak berumah tangga oleh Nabi saw setelah dinikahi pada umur 6 tahun, itu tidak ada larangan. Sedangkan gadis-gadis Arab-pun dalam usia 9 tahu sudah mungkin sekali haid, berarti dewasa. Jadi tuduhan itu hanyalah kebencian yang membabi buta.
Tuduhan-tuduhan lain yang mereka lontarkan terhadap Islam sifatnya sama; hanyalah kebencian dan kebohongan belaka. Orang-orang yang mau berpikir pasti paham bahwa tuduhan-tuduhan mereka itu menunjukkan betapa rendahnya moral mereka.
Tiga Serangkai Musuh Islam Kristenisasi
Orientalisme dan Penjajahan menjadi tiga serangkai, yang tidak dapat dipisahkan. Masing-masing mempunyai tugas untuk menghancurkan umat Islam.
Kristenisasi bertugas untuk merusak aqidah; orientalisme memporak-porandakan pemikiran Islam; dan penjajahan melumpuhkan fisik.
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. (Q.S. At-Taubah 32)
Tujuan utama missionaris Zending adalah menyeret orang-orang Islam ke Kristen. Jika hal itu sulit dilakukan, maka akan ditempuh dengan upaya bagaimana cara mengaburkan pengertian Islam bagi kaum muslimin. Misionaris bertindak sebagai antek-antek dan mata-mata penjajah Barat demi merusak kesatuan Islam. Tujuan itu diperjelas oleh Pendeta Simon, bahwa misionaris adalah faktor penting sebagai penghancur kekuatan persatuan umat Islam.
Negara yang pertama kali mengembangkan kristenisasi adalah Belanda, yang pernah menjajah Indonesia dan memecah Jawa menjadi kawasan-kawasan yang dibangun untuk gereja dan sekolahan. Kemudian langkah tersebut diikuti oleh negara Eropa lainnya.
Memperkosa dan Memurtadkan
Kejahatan kristenisasi itu, kini dilengkapi dengan kenyataan kristenisasi yang sangat menghina umat Islam, yaitu memperkosa muslimah murid Madrasah Aliyah di Padang yang selanjutnya dimurtadkan. Khairiyah Enisnawati alias Wawah (17 thn) pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Gunung Pangilun, Padang, Sumatera Barat adalah salah satu dari 500 orang Minang yang dimurtadkan. Gadis berjilbab itu diculik, diperkosa dan dipaksa keluar dari agamanya lewat misi rahasia yang dijalankan sekelompok orang Kristen, di rumah Salmon seorang Jemaat Gereja Protestan di Jl. Bagindo Aziz Chan, Padang tempat memaksa Wawah untuk membuka jilbab dan masuk Kristen.
Gereja itu dipimpin Pendeta Willy, sedang Salmon adalah jemaat yang juga karyawan PDAM Padang. (lihat Dialog Jumat, 6 Agustus 1999). Dengan aneka kelicikan, kebrutalan dan bahkan pemerkosaan seperti tersebut di atas, jumlah orang Kristen di Indonesia makin menanjak secara drastic. Dari hanya 2,8% pada tahun 1931 menjadi 7,4% pada 1971 dan hampir 10% pada 1990. Kebrutalan dan kebiadaban mereka itu menimbulakan aneka konflik pula secara bertubi-tubi. Diantaranya kerusuhan antara Muslimin dan Nasrani di Dili Timor Timur (1994), Maumere NTT (1995), Surabaya dan Situbondo Jatim (1996), Tasikmalaya (1997), Ketapang dan Kupang, serta Ambon dan Sambas (1999). (Ibid. hal 4)
Pertemuan 300 pimpinan gereja dari 50 negara di Singapura, Januari 1989, kemudian pada 6 Januari 1991 dilancarkan apa yang disebut Dekade Evangelisasi, yakni Manifestasi Kristus kepada gentiles (non Kristen). Berdasarkan interpelasi angka Gereja dari 5.100.000.000 penduduk dunia dewasa ini, orang Kristen berjumlah 1.665.000.000. Berarti ada sekitar 3.435.000.000 penduduk dunia yang harus dikristenkan, menurut mereka. (Media Dakwah, Agustus 1999, hal. 16)
Dari memperkosa muslimah lalu memurtadkan, sampai mengamen di bus-bus kota dengan lagu Gerejani telah mereka gencarkan. Maka benar dan terbuktilah firman Allah swt: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (Q.S. Al-Baqarah 120).
Apa upaya kita dalam menghadapi kejahatan kristenisasi?
Jakarta, 10 Rabiuts Tsani 1420 H (23 Juli 1999 M)
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGKAJIAN ISLAM (LPPI)
Masjid Al-Ihsan Lt. III Proyek Pasar Rumput Jakarta 12970
Telp./Fax. (021) 8281606
Rujukan:
1. Muallaf Meluruskan Pendeta, H. Insan L.s. Mokoginta, Yayasan Muhtadin, Jakarta, 1998
2. Muallaf Membimbing Pendeta ke Surga, H. Insan L.S. Mokoginta, Yayasan Muhtadin, Jakarta, 1998
3. Pendeta menghujat, Muallaf meralat, H. Insan L.s. Mokoginta, FAKTA, Jakarta, 1999
4. Islam dan Kristen di Indonesia, M. Natsir, Media Dakwah
[Kontributor : Muslim, 15 Juni 2002 ]
Sumber : http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&op=printarticle&artid=79 (27 Juni 2006)
Bahaya Kristianisasi
Tantangan Bagi Umat Islam
Atas Bahaya Kristenisasi
Selama puluhan tahun kaum muslimin Indonesia boleh berbangga hati dengan julukan "komunitas muslim terbesar di dunia" yang disandangnya. Berdasarkan Survey Antar Sensus (Supas) yang diiakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 1990, tercatat bahwa dari 200 juta jiwa, prosentase umat Islam mencapai 87,3 persen (dibulatkan menjadi 90 persen). Sementara umat Kristen Protestan hanya 6 persen, umat Katolik 3,6 persen, Hindu 1,8 persen, Budha 1 persen dan agama lain 0,3 persen.
Sebagai dai, kita tidak boleh silau mata dengan besarnya angka-angka mayoritas di atas. Apalagi, data-data terkini, mencatat bahwa jumlah umat Islam anjlok drastis dari 90 persen menjadi 75 persen (tabloid SIAR edisi No. 43, 18-24 Nopember 1999 hal. 14).
Terllepas dari validitas dan akurasi data di atas, perlu dicermati pula hasil temuan Litbang Departemen Agama, bahwa panyebab penurunan populasi umat Islam nusantara itu ada dua hal:
Pertama, Keberhasilan program KB yang dilakukan dengan gencar kepada kaum muslimin, sementara kepada umat non Islam, program KB tidak pernah didengungkan, nyaris tak terdengar. Dengan demikian, program KB mengakibatkan pertumbuhan populasi umat Kristen jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan populasi umat Islam.
Kedua, Keberhasilan program Kristenisasi yang dilakukan dangan gencar, semakin hari semakin canggih dan tidak mengindahkan kode efik penyiaran agama.
Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa penyimpangan-penyimpangan penyiaran agama sering kali dipakai para missionaris untuk menyebarkan Injil dan kekristenan di nusantara, antara lain:
Pembangunan Gereja di lingkungan masyarakat mayoritas muslim.
Di tengah-tengah warga mayoritas muslim, pihak Salib melanggar SKB menteri dengan membangun gereja yang megah. Untuk mengisi dan meramaikan gereja pada saat kebaktian, didatangkanlah jemaat Kristen dari tempat lain yang berjauhan. Dengan demikian, syiar mereka berlahan-lahan menarik simpati warga yang lemah iman.
Kasus yang terbaru adalah terusiknya ketenangan warga Depok dengan kehadiran GPIB Shalom, akhirnya membuahkan penanganan ilegal. Sebagai kado pada ulang tahunnya yang ke-31, CPIB Depok yang agresif itu dibakar warga.
Sejak awalnya, pendirian gereja itu selalu ditentang warga sekita dengan alasan karena lokasi itu mayoritas Islam. Sedangkan keluarga Kristen hanya beberapa gelintir orang saja. Dengan sikap nekadnya, maka pihak Kristen mendirikan GPIB Shalom, tepatnya di Jl. Kembang Lio Boji, Depok, Bogor, Jawa Barat. Cara pendiriannya pun ditempuh melalui lobi-lobi licik.
Setelah gareja itu berdiri megah, maka untuk mengisinya didatangkan orang-orang Kristen dari tempat lain yang berjauhan. Setiap Minggu, kegiatan gereja tidak pernah sepi oleh orang-orang Kristen impor. Dengan syiar Kristen ini, maka beberapa keluarga muslim yang amblas iman Islamnya, murtad menjadi Kristen, mempertuhankan Yesus.
Namun, umat Kristen yang cuma segelintir itu semakin berani. Dengan semboyan maju tak gentar, ultimatum serius itu dianggapnya sebagai gertak sambal yang tidak menakutkan. Akhirnya, ultimatum warga menjadi kenyataan. Setelah sekian lama memberikan toleransi sambil menahan emosi, maka pada hari Selasa, 2 Nopember 1999 dini hari, GPIB Shalom Depok diamuk masa, dirusak dan dibakar habis. Kesabaran manusia ada batasnya.
Kristenisasi kepada pasien muslim.
Di beberapa rumah sakit, misalnya di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, kepada pasien muslim dibagi-bagikan leaflet (brosur) tentang penghiburan dan penyembuhan Yesus Kristus kepada orang-orang sakit. Di rumah sakit Advent Bandung, pasien muslim diajak berdoa berdama oleh rohaniawan rumah sakit dengan tata cara peribadatan Kristen.
Kristenisasi melalui jalur pemerkosaan gadis-gadis muslimah.
Khairiyah Anniswah alias Wawah, siswi MAN Padang, setelah diculik dan dijebak oleh aktivis Kristen, diberi minuman perangsang lalu diperkosa. Setelah tidak berdaya, dia dibaptis dan dikristenkan.
Kasus serupa menimpa Linda, siswi SPK Aisyah Padang. Setelah diculik dan disekap oleh komplotan aktivis Kristen, dia diperlakukan secara tidak manusiawi dengan teror kejiwaan supaya murtad ke Kristen dan menyembah Yesus Kristus.
Di Bekasi, modus pemerkosaan dilakukan lebih jahat lagi. Seorang pemuda Kristen berpura-pura masuk Islam lalu menikahi seorang gadis muslimah yang salehah. Setelah menikah, mereka mengadakan hubungan suami isteri. Adegan ranjang yang telah direncanakan, itu foto oleh kawan pemuda Kristen tersebut. Setelah foto dicetak, kepada muslimah tersebut disodorkan dua pilihan: "Tetap Islam atau Pindah ke Kristen?". Ka!au tidak pindah ke Kristen, maka foto-foto talanjang muslimah tersebut akan disebarluaskan. Karena tidak kuat mental, maka dengan hati berontak muslimah tersebut dibaptis dongan sangat-sangat terpaksa sekali, untuk menghindari aib.
Di Cipayung Jakarta Tirnur, seorang gadis muslimah yang taat dan shalehahterpaksa kabur dari rumahnya. Masuk Kristen mengikuti pemuda gereja yang berhasil menjebaknya dengan tindakan pemerkosaan dan obat-obat terlarang.
Kristenisasi melalui penyebaran Narkoba.
Di desa Langensari, Lembang, Bandung, Yayasan Sekolah Tinggi Theologi (STT) Doulos meyebarkan Kristen dengan cara merusak moral terlebih dahulu. Di sana, para pemuda usia 15 tahunan dicekoki minuman keras dan obat-obat terlarang sampai kecanduan berat. Setelah kecanduan, para pemuda harapan bangsa itu dimasukkan ke panti rehabilitasi Doulos untuk disembuhkan sambil dicekoki Injil supaya murtad dari Islam. (Republik, 10 dan 12 April 1999).
Kristenisasi melalui kesaksian-kesaksian Palsu via mantan muslim (murtadin)
Tahun 1974, GPIB Maranatha Surabaya digegerkan oleh kasus pelecehan agama oleh Pendeta Kernas Abubakar Masyhur Yusuf Roni. Dalam ceramahnya, sang pendeta itu mengaku ngaku sebagai mantan kiyai, alumnus Universitas Islarn Badung dan pernah menjadi juri MTQ Internasional. Dia tafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an secara sangat ngawur. Kaset rekaman ceramah tersebut kemudian diedarkan secara luas kepada umat Islam.
Setelah diusut tuntas, ternyata pengakuan pendeta itu hanyalah bohong belaka Yusuf Roni teryata tidak bisa baca Al-Qur'an. Dengan kebohongannya itu, Pendeta Pembohong Yusuf Roni diganjar penjara 7 tahun di Kalisosok, Surabaya.
Ketika orang sudah banyak melupakan kasus pelecehan Yusuf Roni, di Jakarta muncul pelecehan plus seribu dusta yang baru. Seseorang yang menamakan dirinya Pendeta Hagai Ahmad Maulana mengaku sebagai putra kandung kesayangan KH. Kosim Nurzeha. Ceramahnya di gereja pun beredar luas di kalangan masyarakat. Setelah diselidiki, terkuaklah kebohongan besar pendeta Hagai Ahmad Maulana. Sebab belum pernah istri KH. Kosim Nurzeha melahirkan Ahmad Maulana.
Di Padang, trik yang sama dipakai untuk menggoyang akidah umat. Seseorang yang menamakan dirinya Pendeta Willy Abdul Wadud Karim Amrullah, namanya menjadi naik daun di dunia pemurtadan Kristenisasi, setelah mangaku adik kandung ulama besar pakar tafsir, Yang Mulia Almarhum Buya Hamka.
Orang awam banyak yang percaya tanpa cek dan ricek. Langsung yakin begitu saja dengan pengakuan bahwa adik kandung Buya Hamka itu sudah murtad ke Kristen.
Setelah diselidiki, ternyata pengakuan itu adalah kebohongan yang sangat besar. Salah seorang putra Buya Hamka menyatakan bahwa sepanjang hayatnya, dia tidak pernah punya paman yang namanya Willy Abdul Wadud Karim Amarullah.
Di Cirebon, murtadin Danu Kholil Dinata Ev. Danu Kholil Dinata alias Theofilus Daniel alis Amin Al Barokah, mengaku sebagai sarjana agama Islam, yang pindah menjadi pemeluk Kristen setelah mempelajari Nabi Isa versi Islam di STAI Cirebon. Setelah dilacak, ternyata ijazah sarjana yang dipakai untuk kesaksian adalah PALSU.
Para murtadin pembohong lainnya adalah Drs. H. A. Poernomo Winangun alias Drs. H. Amos, Ev Hj. Christina Fatimah alias Tin Rustini (nama asli di kampung Sutini alias Bu Nonot, Pdt. Rudy Muhammad Nurdin, Pdt. M. Mathius, Pdt. Akmal Sani, Niang Dewi Ratu Epon Irma F. Intan Duana Paken Nata Sastranagara (Ev. Ivone Felicia IDp.). Mengaku telah mengkristenkan 60 kiyai Banden, dll.
Kristenisasi berkedok sosial di desa-desa turpencil.
Kristenisasi dilancarkan kepada orang-orang miskin sambil menawarkan makanan (berisi, mie, gula, dll.) secara gratis, obat-obatan, pakaian bekas, alat-alat pertanian (bibit, pupuk, obat pembunuh serangga), dll.
Setelah orang desa merasakan manfaatnya, maka barulah para misi menyatakan maksud yang sebenarnya, bahwa mereka itu sebagai pelayan dari Yesus Kristus. Dan bantuan yang mereka nikmati itu adalah dari Yesus. Maka, mana yang lebih baik, Islam atau Kristen? Selanjutnya, masyarakat desa dibaptis. Bagi yang tidak mau masuk Kristen maka dimulailah misi untuk menggoda iman untuk melemahkan ajaran Islam.
Kristenisasi berkedok Islam, yaitu memurtadkan akidah umat dengan strategi 'Srigala Berbulu Domba'.
Dengan memakai idiom-idiom keislaman dalam tata cara peribadatan serta menerbitkan buku-buku dan brosur (leaflet) berwajah Islam, tapi isinya memutarbalikan ayat-ayat Al Our'an dan Hadits, untuk mendangkalkan akidah. Dipermainkannya ayat-ayat ilahi untuk meleceh Islam demi untuk menjunjung tinggi kekristenan. Tujuan akhirnya, agar kaum muslimin meragukan ajaran Islam lalu pindah ke Kristen.
Dengan Gerakan pemurtadan kristiani yang dikemas dalam wajah Islam, persoalan dakwah Islamiyah semakin berat. Agresivitas misi Kristen sudah memasuki tingkat berbahaya. Kaum awam sulit membedakan keislaman dan kekristenan, sehingga mudah dikaburkan akidahnya.
Bentuk-bentuk Kristenisasi yang dikemas dalam wajah Islam, antara lain:
Pertama, Dengan meniru kebiasaan umat Islam dalam bangunan dan tata cara ritual.
GPIB Padang memakai lambang-lambang Minang dalam bangunan Gereja untuk merayu orang Minang agar tertarik kepada Kristen.
Di beberapa desa di Yogyakarta, misi Kristen meniru adat kebiasaan umat Islam, seperti tahlilan, pakai kopiah yang biasa dipakai oleh umat Islam, mengucapkan salam `Assalamu'alaikum', dll.
Shalat 7 waktu dengan pakai peci, sajadah, tiwalul Injil dan qasidah versi Kristen yang dilakukan oleh Kristen sekte Ortodox Syria. Buku-buku yang diterbitkan antara lain. Kitabus Sholawat as Sab'u, Almasih Juru Selamatku, Muslim Sahabatku, La ilaha illallahu, Tauhid dalam perspektif Gereja Ortodox Syiria, dll.
Kedua, Melalui berbagai penerbitan kristenisasi berkedok Islam.
Ada dua target yang ingin dicapai oleh missi dengan penerbitan buku-buku berwajah Islam.
(1) target ke dalam, untuk memantapkan ajaran Kristen. Seoiah-olah ajaran Kristenlah yang paling benar.
(2) target ke luar, untuk mengelabuhi umat Islam yang masih dangkal pemahamannya, agar mau membaca lalu meyakini doktrin agama Kristan. Ini sangat ditekankan mereka, sebab mereka melihat bahwa umat Islam awam tidak sudi membaca buku-buku yang berwajah Kristen.
Daftar berbagai penerbitan kristenisasi berkedok Islam yang ketahuan, antara lain:
Buku karya Drs. A. Poernarna Winangun: Upacara lbadah Haji, Ayat-ayat Al Qur'an Yang Menyelamatkan, Isa Alaihis Salam Dalam Pandangan Islam, dan Riwayat Singkat Putaka Peninggalan Nabi Muhammad saw.
Buku Kristus dan Kristen di Dalam Al-Qur'an (Al Masih Wal Masihiyun Fil Quur'an) karya Drs. Amin Al Barokah alias Danu Kholil Dinata.
Buku Karya mendiang Hamran Ambrie: Allah Sudah Pilihkan Saya Kasih Buat Hidup Baru Dalam Yesus Kristus, Keilahian Yesus Kristus dan Allah tritunggal Yang Esa, Dengan Kasih Kita Jawab, Jawaban Atas Buku Bible Qur'an dan Science, Dialog Tertulis Islam-Kristen, Surat bari Mesir, Siap Sedia Menjawab Tantangan Benteng Islam, Sebuah Memori Yang Tak Terlupakan, dll.
Terbitan Yayasan Jalan Al Rachrnat: Sejarah Naskah Al Qur'an dan Alkitab, oleh John Gilchrist; Sulitkah Menjadi Orang Kristen, oleh Abdul Masih; Siapakah Kristus Selayaknya Menurut Anda, oleh Abdul Masih; Sudah Kutemukan, oleh Iskandar Jadeed; Benarkah Alkitab Dipalsukan, oleh Iskandar Jadeed; Injil Barnabas Suatu Kesaksian Palsu, oleh Iskandar Jadeed; Kesempurnaan Taurat dan Injil, oleh Iskandar Jadeed; Bagaimana Supaya Dosa Diampuni, oleh Iskandar Jadeed; Bagaimana Kita Berdoa, oleh Iskandar Jadeed; Kristus Menurut Islam dan Kristen, oleh John Gilchrist, Benarkah Nabi Isa Disalib, oleh John Gilchrist; Allah Itu Esa di Dalam Tritungga! Yang Kudus, oleh Zachariah Butrus; Selidikilah, Anda Pasti Selamat, oleh Sultan Muhammad Paul.
Terbitan Yayasan Christian Centre Nehemia: Kerudung Yang Dikoyak, oleh Gulshan Ester; Seorang Gadis Kristen Mempertanggungjawabkan Imannya, oleh Nita; Apakah Al Qur'an Benar-benar Wahyu Allah, oleh Ev. J. Litik; Kebenaran Firman Allah, oleh Pdt. M. Matheus; Lima Alasan Pokok Tentang Isi Al Qur'an Yang Menyebabkan Saya Beralih Dari Islam ke Kristen, oleh Ev. J. Litik; dll.
Karya Pdt. R. Muhammad Nurdin: Ayat-Ayat Penting Di Dalam Al-Qur'an, Keselamatan Di Dalam Islam, Selamat Natal Menurut Al Qur'an, Kebenaran Yang Benar (As Shodiqul Mashduuq), Rahasia Allah Yang Paling Besar (As Sirrullahil Akbar), Telah Kutemukan Rahasia Allah Yang Paling Besar, Ya Allah Ya Ruhul Qudus Aku Selamat Dunia dan Akhirat, Wahyu Tentang Neraka, Wahyu Keselamatan Allah, dan lain-lain.
Kaligrafi dan kalender tulisan Arab yang berisikan ayat-ayat Injil tentang ketuhanan Yesus.
Brosur-brosur: Brosur Dakwah Ukhuwah, Brosur Shirathal Mustaqim, Brosur Jalan Al Rachmat, dll.
Kaset: Kaset tilawatul Injil, Dzat dan Sirat Allah (ceramah Pendeta Kemas Abubakar Mashur Yusuf Roni), Kesaksian murtadin Muhammad Imran, Kesaksian murtadin Ikhwan Luqman, Kesaksian murtadin Pdt. Akmaal Sani, Kesaksian murtadin Lies Saodah, Kesaksian murtadin Hagai Ahmad Maulana yang mengaku-ngaku putera KH. Kosim Nurzeha, dan lain-lain.
Sumber : http://kristology.tripod.com/Fakta.html